Dari Sapu Pantai, Lahir Gerakan Peduli Maluk

Warta Sumbawa, Sumbawa Barat — Pesan kemerdekaan dalam Parade Musik Pantai Maluk 2026 tak sekadar berbicara tentang perjuangan para pahlawan. Semangat kemerdekaan juga dimaknai melalui penghormatan terhadap mereka yang bekerja jujur, menjaga lingkungan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan dalam rangkaian Parade Musik Pantai Maluk 2026, Minggu, (6/9/2026). Salah satu sorotan utama dalam kegiatan itu adalah penghargaan kepada Ibu Su’ud dan Pak Su’ud, pasangan yang selama ini secara rutin membersihkan Pantai Maluk.

Kisah kepedulian terhadap kebersihan Pantai Maluk bermula dari hal sederhana. Seorang warga yang telah lebih dari 20 tahun tinggal di Maluk awalnya hanya berniat berjalan kaki sekitar 30 menit di kawasan pantai.

Saat berjalan di sekitar Kios Biru, ia melihat seorang perempuan tengah menyapu pantai. Perempuan tersebut kemudian diketahui bernama Ibu Nurul, sosok yang selama ini memiliki kepedulian terhadap kebersihan Pantai Maluk.

Pertemuan dan percakapan sederhana itu kemudian memunculkan pertanyaan tentang apa yang telah dilakukan untuk Pantai Maluk selama puluhan tahun tinggal di daerah tersebut.

Dari sanalah muncul tekad untuk ikut mendukung orang-orang yang sejak awal telah bergerak menjaga kebersihan pantai. “Saya ingin menjadi the man behind them—orang yang bekerja di belakang mereka, membantu orang-orang yang sejak awal sudah peduli,” ketua pelaksana dr. Ali Praja kepada media ini.

Perhatian kemudian tertuju kepada Ibu Su’ud dan Pak Su’ud. Hampir setiap hari keduanya membersihkan Pantai Maluk dengan menyapu, memungut dan mengangkut sampah. Mereka bahkan membuat bak sampah dan menggunakan kendaraan pickup untuk mengangkut sampah.

Tidak hanya itu, lahan milik keluarga tersebut juga digunakan untuk membantu persoalan pembuangan sampah.

Dari perjuangan beberapa orang itu kemudian muncul gagasan untuk mengajak lebih banyak masyarakat terlibat. Kegiatan senam sehat, clean up, hingga pemberian kupon dan hadiah bagi peserta yang berhasil mengumpulkan sampah terbanyak menjadi bagian dari upaya menghidupkan gerakan kebersihan Pantai Maluk.

Pantai pun mulai ramai. Masyarakat mulai terlibat dan kepedulian tumbuh menjadi gerakan bersama. “Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang perubahan dimulai dari seseorang yang mengambil sapu dan membersihkan sesuatu yang bukan kewajibannya,” ungkapnya.

Dalam pesan kemerdekaannya, ia menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang jasa para pahlawan yang merebut kemerdekaan. Kemerdekaan juga berarti menghargai setiap orang yang bekerja dengan jujur, menggunakan tangannya sendiri, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Penghargaan secara khusus diberikan kepada Ibu Nurul dan Ibu Dewi yang dinilai menjadi bagian penting dalam perjalanan gerakan tersebut. Sementara Ibu Su’ud dan Pak Su’ud mendapatkan penghormatan khusus atas konsistensi mereka menjaga kebersihan Pantai Maluk.

Perjuangan pasangan tersebut, kata dia, bukan hanya menghadapi persoalan sampah. Mereka juga harus menghadapi pandangan dan perkataan yang merendahkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan. Bahkan, anak-anak mereka pernah merasakan beratnya menjadi anak dari orang tua yang bekerja membersihkan sampah.

Namun, Ibu Su’ud tetap teguh dengan pekerjaannya.

“Ini halal, Nak. Ibu tidak mengemis,” jelasnya.

Kalimat tersebut dinilai sebagai gambaran tentang kehormatan dalam bekerja dan mencari rezeki secara halal. “Bekerja dengan jujur bukan sesuatu yang memalukan. Mencari rezeki yang halal bukan sesuatu yang rendah. Menjaga kebersihan lingkungan bukan pekerjaan yang hina,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, keluarga Ibu Su’ud dan Pak Su’ud sengaja dihadirkan untuk menyaksikan penghargaan tersebut. Kehadiran keluarga diharapkan menjadi momentum bagi anak-anak mereka untuk melihat bahwa pekerjaan orang tuanya justru mendapatkan penghormatan dari masyarakat.

“Kepada anak-anak Ibu dan Pak Su’ud, saya ingin mengatakan: jangan pernah malu dengan pekerjaan orang tua kalian. Jangan pernah merasa rendah karena orang tua kalian membersihkan sampah,” katanya.

Sebagai bentuk apresiasi, Ibu Su’ud dan Pak Su’ud diberikan sepeda. Pemberian tersebut disebut bukan dinilai dari harga atau nilai bendanya, melainkan sebagai simbol penghargaan atas ketulusan dan perjuangan mereka menjaga Pantai Maluk.

“Kami bangga kepada kalian”

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat Pantai Maluk agar tidak meremehkan kebaikan kecil. Sebab, dari tindakan sederhana seseorang mengambil sapu dan membersihkan pantai, dapat tumbuh kepedulian, gerakan dan kebersamaan.

“Dari sapu itu lahir kepedulian. Dari kepedulian lahir gerakan. Dari gerakan lahir kebersamaan,” ujarnya.

Parade Musik Pantai Maluk 2026 pun menjadi momentum untuk menegaskan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk menjaga lingkungan dan menghargai setiap pekerjaan yang dilakukan dengan kejujuran dan keikhlasan. (WS.01)