Warta Sumbawa, Sumbawa Barat — Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Barat Andi Laweng, SH., MH meminta Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bersama aparat kepolisian dan pihak terkait memberi perhatian serius terhadap dugaan aktivitas pengeboman ikan di wilayah perairan KSB.
Andi Laweng mengatakan, informasi mengenai aktivitas tersebut diperoleh dari nelayan setempat yang mengaku kerap melihat praktik pengeboman ikan di sejumlah lokasi perairan. Ia menduga pelaku berasal dari luar wilayah KSB.
“Informasi ini didapatkan dari nelayan setempat yang melihat banyak terjadi pengemboman ikan. Pengeboman diduga dilakukan orang dari luar KSB,” kata Andi Laweng.
Menurutnya, aktivitas pengeboman yang dilakukan berulang kali berpotensi merusak terumbu karang dan biota laut. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah, kepolisian serta pihak terkait meningkatkan pengawasan dengan melakukan patroli di wilayah perairan KSB.
Ia juga meminta pemerintah daerah mengambil langkah pengamanan terhadap kawasan perairan agar kerusakan ekosistem laut tidak semakin meluas.
“Bila tidak diseriusi akan merusak ekosistem laut,” ujarnya.
Dugaan aktivitas pengeboman ikan juga disampaikan nelayan Desa Kertasari, Herman. Ia mengatakan, kejadian tersebut disebut kerap terjadi di wilayah Kertasari, tepatnya di sekitar Gili Dua.
Menurut Herman, aktivitas pengeboman biasanya terjadi sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WITA. Ia menyebut, terdapat sekitar empat hingga lima orang dalam satu perahu.
“Ada sekitar 4–5 orang di atas perahu. Salah satunya menggunakan wetsuit dan turun untuk freedive, karena biasanya mereka mengecek lokasi dan menentukan di mana bom akan dilempar,” jelasnya.
Herman mengaku melihat dampak ledakan pada kawasan terumbu karang yang berada di perairan dangkal. Menurutnya, terdapat bekas kawah ledakan di dasar laut yang diduga berasal dari bom ikan.
Ia menyebut, salah satu ledakan mengenai dasar laut, sementara ledakan lainnya terjadi di tengah perairan. Meski sebagian terumbu karang yang lebih dalam disebut masih utuh, ledakan tersebut dilaporkan menyebabkan banyak ikan mati.
“Selama 2 bulan terakhir pengemboman sering terjadi,” ujarnya.
Herman juga mengatakan, suara ledakan terdengar hingga kawasan Pulau Satu dan Pulau Dua. Di sekitar manta cleaning station Pulau Dua, menurut dia, ditemukan kerusakan terumbu karang yang diduga akibat ledakan.
Selain itu, tanda-tanda kerusakan serupa juga disebut terlihat pada terumbu karang di Pulau Satu. Dalam kurun dua bulan terakhir, ia mengamati adanya penurunan jumlah biota laut di sejumlah kawasan terumbu karang.
Dugaan tersebut kini menjadi perhatian karena aktivitas pengeboman ikan, jika terbukti, dapat berdampak langsung terhadap kondisi terumbu karang dan keberadaan biota laut di perairan KSB. (WS.01)

