
Dari : Basuki AR
Warta Sumbawa, Sumbawa Barat – Pernahkah masyarakat KSB bertanya, mengapa dijaman dulu pulau Sumbawa terkenal sebagai lumbung ternak? Padahal nenek moyang memilih beternak dengan cara yang tampak sederhana. Mereka tidak sibuk membangun kandang-kandang megah, tidak sibuk mengimpor pakan pabrikan, dan tidak sibuk dengan suntikan hormon. Mereka punya rahasia yang kini hampir dilupakan: sistem Lar.
Kini ditengah hiruk pikuk modernisasi, mari sejenak berhenti. Berhenti dari kesibukan masing-masing, dan mulai merenungkan satu pertanyaan sederhana: akan diwariskan apa kepada anak cucu nanti? Di tengah perbincangan tentang visi KSB Maju Luar Biasa yang digaungkan dalam RPJMD 2025–2030, ada satu denyut nadi yang mulai melemah. Bukan karena tidak ada program, bukan karena tidak ada anggaran. Tapi mungkin karena terlalu sibuk melihat ke depan, hingga lupa bahwa di belakang ada kearifan yang pernah membuat tanah ini subur dan ternak-ternak gemuk.
Potensi Peternakan yang Terus Bertumbuh
Kabupaten Sumbawa Barat memiliki luas wilayah 184.902 hektar dengan topografi beragam, dari datar hingga sangat curam. Wilayah datar seluas 21.822 hektar atau 11,80 persen dari total wilayah, sebagian besar dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan permukiman. Dengan kondisi geografis seperti ini, peternakan telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumbawa Barat.
Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat menunjukkan populasi kerbau dalam empat tahun terakhir bergerak dinamis. Tahun 2019 tercatat 16.204 ekor, naik menjadi 16.632 ekor di tahun 2020. Kemudian turun sedikit di tahun 2021 menjadi 16.519 ekor, dan kembali merangkak naik di tahun 2022 menjadi 16.917 ekor. Fluktuasi ini wajar dalam dunia peternakan, namun yang perlu digarisbawahi: dengan segala potensi alam yang dimiliki, dengan luasnya hamparan padang yang dulu menjadi kebanggaan, apakah angka ini sudah ideal? Apakah masyarakat sudah merasa puas dengan capaian ini.? Padahal dahulu, hampir setiap petani di KSB memiliki kerbau untuk digembalakan di lar-lar.
Pemerintah daerah melalui program Bariri Ternak yang digulirkan sejak 2017 patut diapresiasi. Rp3-5 miliar per tahun dialokasikan untuk bantuan bibit, pakan, kandang, hingga subsidi asuransi ternak. Hasilnya memang terlihat: total populasi ternak besar hingga akhir 2021 mencapai 105.107 ekor, terdiri dari sapi 82.445 ekor, kerbau 16.519 ekor, dan kuda 6.644 ekor. Program ini menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor peternakan.
Yang lebih menggembirakan, kuota pengiriman ternak antarprovinsi tahun 2025 untuk Kabupaten Sumbawa Barat mencapai 1.100 ekor kerbau, lebih tinggi dibandingkan kuota sapi yang hanya 1.000 ekor. Angka ini menunjukkan bahwa kerbau masih menjadi komoditas unggulan yang diperhitungkan di tingkat provinsi. Di tengah gempuran modernisasi, kerbau tetap menjadi primadona yang tidak tergantikan.
Lar yang Tertidur
Dulu, orang tua bercerita tentang luasnya padang penggembalaan di Tana Samawa. Tentang ternak-ternak yang dilepas pagi dan pulang sore tanpa perlu dikejar-kejar. Tentang aturan main yang disepakati bersama: kapan harus digembalakan, kapan harus diistirahatkan, kapan giliran siapa yang menjaga. Itulah Lar. Bukan sekadar tanah kosong berumput. Lar adalah ekosistem peternakan lengkap yang dirancang oleh kecerdasan lokal. Di dalamnya ada padang pakan alami, ada sumber air, ada kubangan lumpur untuk kerbau berendam, dan yang terpenting: ada kesepakatan sosial yang mengikat semua warga untuk menjaganya bersama.
Dalam sistem Lar, tidak ada istilah “ternak saya, rumput saya”. Semua adalah milik bersama yang dikelola untuk kemaslahatan bersama. Saat musim tanam tiba, ternak diarahkan ke Lar agar tidak merusak sawah warga. Setelah panen, mereka dilepas ke sawah untuk memanfaatkan jerami. Alam dijaga, ternak kenyang, petani senang. Sederhana, tapi cerdas. Sistem ini mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri.
Sayangnya, sistem ini perlahan mati. Bukan karena tidak efektif, tapi karena perlahan ditinggalkan. Lahan-lahan penggembalaan berubah fungsi menjadi permukiman atau bahkan terbengkalai tak terurus. Semangat gotong royong tergerus individualisme. Akibatnya, peternak kecil sekarang harus kelabakan mencari rumput setiap hari, sementara biaya produksi membengkak. Padahal, dulu alam menyediakan semuanya dengan cuma-cuma.
Ironi Karapan
Setiap tahun, masyarakat masih menyaksikan gemerlap Karapan Kerbau Sumbawa. Ribuan pasang mata menonton, para pejabat hadir memberikan sambutan, hadiah menggiurkan disiapkan. Tapi pernahkah bertanya: dari mana datangnya kerbau-kerbau itu? Apakah peternak masih sanggup membiayai pemeliharaannya? Apakah generasi muda masih tertarik menjadi peternak?
Inilah ironi terbesar. Kegembiraan sesaat dalam karapan tidak sebanding dengan perjuangan peternak yang setiap hari harus memutar otak menyediakan pakan.
Kemeriahan acara tidak menjamin keberlanjutan populasi. Bahkan bisa jadi, kerbau-kerbau yang dikarapankan itu adalah jerih payah bertahun-tahun yang suatu saat akan habis jika tidak ada sistem pemeliharaan yang berkelanjutan. Kekhawatiran muncul, jika tidak ada perubahan mendasar dalam sistem pemeliharaan, suatu saat nanti Karapan Kerbau hanya akan menjadi tontonan nostalgia. Masyarakat akan menonton rekaman-rekamannya dan berkata: “Dulu, di tanah ini, ada tradisi agung dengan hewan yang gagah.” Sementara kerbaunya sendiri hanya tinggal cerita.

Ternak dan Isu Sosial
Hilangnya sistem lar dalam beberapa dekade terakhir tidak hanya berdampak pada melemahnya sistem peternakan tradisional, tetapi juga memunculkan persoalan sosial baru di tengah masyarakat. Seiring dengan pesatnya perkembangan permukiman dan perubahan peruntukan lahan di Kabupaten Sumbawa Barat, kawasan penggembalaan yang dahulu menjadi ruang hidup ternak semakin menyusut bahkan hilang sama sekali.
Akibatnya, pola beternak masyarakat mengalami perubahan yang tidak sepenuhnya terkelola. Banyak ternak—baik sapi maupun kerbau—dilepas begitu saja tanpa kawasan penggembalaan yang jelas. Tanpa ladang gembala yang memadai, ternak secara alami mencari pakan ke berbagai tempat yang mudah dijangkau, termasuk pekarangan rumah warga, kebun, hingga lahan pertanian.
Kondisi ini membuat ternak yang dahulu dipandang sebagai aset ekonomi masyarakat perlahan berubah menjadi sumber keresahan. Tanaman di kebun atau ladang sering rusak karena dimasuki ternak, sehingga memicu keluhan bahkan konflik antarwarga. Persoalan ternak pun tidak lagi sekadar isu peternakan, tetapi telah menjadi persoalan sosial yang mempengaruhi ketertiban dan hubungan antar masyarakat desa.
Di masa lalu, sistem lar sebenarnya berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menjaga keseimbangan tersebut. Dengan adanya kawasan khusus penggembalaan, ternak memiliki ruang hidup yang jelas, sementara lahan pertanian dan permukiman tetap terlindungi. Karena itu, menghidupkan kembali lar bukan hanya penting bagi pengembangan peternakan, tetapi juga menjadi langkah untuk memulihkan harmoni sosial masyarakat di Pulau Sumbawa.
Revitalisasi Lar: Bukan Kembali ke Masa Lalu
Revitalisasi Lar bukan berarti menolak kemajuan. Justru sebaliknya: ini tentang mengadaptasi kearifan lama ke dalam konteks kekinian dengan pendekatan yang lebih modern. Ini bukan tentang mundur ke belakang, tapi tentang melompat ke depan dengan membawa warisan terbaik dari masa lalu.
Bayangkan memulai proyek percontohan di kawasan yang teridentifikasi sebagai zona unggulan, misalnya di Kecamatan Sekongkang, tepatnya di Sinyur dengan keluasan 30 ha. Lahan yang sesuai disulap menjadi ekosistem peternakan terpadu. Dipagari, ditanami rumput unggul, disiapkan sumber air dan kubangan buatan. Di sinilah peternak bisa melepas kerbaunya dengan tenang, tanpa takut hilang atau kekurangan pakan. Sistem semi-ekstensif ini memungkinkan ternak tumbuh alami, biaya pakan minimal, sambil tetap dalam pengawasan.
Tapi jangan berhenti di situ. Di sela-sela padang rumput, ditanam pohon buah seperti nangka atau jambu sebagai peneduh dan sumber pendapatan tambahan. Dibangun kolam ikan di dekat sumber air, memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk alami. Dengan pendekatan ini, Lar tidak lagi sekadar tempat penggembalaan, tapi ekosistem ekonomi desa yang produktif. Bahkan, bukan tidak mungkin kawasan ini menjadi agrowisata edukasi yang bisa menarik pengunjung dari luar daerah. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Kunci di Tangan Manusia
Sehebat apa pun infrastruktur yang dibangun, tanpa manusianya, semua akan sia-sia. Karena itu, pembentukan dan penguatan kelompok petani-peternak menjadi mutlak. Merekalah yang akan menyusun aturan, menentukan jadwal, mengawasi jalannya sistem, dan yang terpenting: membagi manfaat secara adil. Pendekatan berbasis komunitas ini penting agar masyarakat merasa memiliki. Lar bukan milik pemerintah, bukan milik perusahaan, tapi milik bersama. Ketika rasa kepemilikan tumbuh, maka penjagaan akan berjalan alami, tanpa perlu banyak aturan dan pengawas. Inilah keindahan sistem tradisional: aturan lahir dari kesadaran, bukan dari ketakutan.
Kabupaten Sumbawa Barat sebenarnya sudah memiliki modal sosial yang kuat. Kelompok-kelompok peternakan sudah tersebar di berbagai kecamatan dan terus mendapat pembinaan. Tinggal bagaimana merajutnya menjadi satu gerakan bersama untuk menghidupkan kembali sistem Lar. Pemerintah bisa menjadi fasilitator, tapi masyarakatlah yang harus menjadi aktor utama.
Kearifan untuk Masa Depan
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah mampu, tapi apakah mau. Mau meluangkan waktu, mau membuka pikiran, mau bergotong royong seperti dulu lagi. Kemauan adalah modal paling mahal dalam setiap perubahan.
Visi KSB Maju Luar Biasa tidak harus diukur dari modernisasi atau pabrik-pabrik besar. Kemajuan sejati bisa diukur dari bagaimana merawat warisan leluhur, menjaga keseimbangan alam, dan memastikan anak cucu masih bisa menyaksikan Karapan Kerbau dengan mata kepala sendiri—bukan hanya dari layar ponsel. Dengan populasi kerbau yang stabil di atas 16.000 ekor dan dukungan kuota pengiriman 1.100 ekor per tahun, daerah ini masih punya modal. Bukan modal yang melimpah, tapi cukup untuk memulai. Cukup untuk tidak menunda lagi. Cukup untuk bangkit dan berkata: tidak mau tradisi ini mati di tangan generasi sekarang.
Sistem Lar menawarkan jalan tengah yang cerdas. Ia adalah jembatan antara masa lalu yang bijak dan masa depan yang berkelanjutan. Menghidupkannya kembali berarti menghidupkan kembali jiwa peternakan Sumbawa. Bukan hanya untuk kepentingan ekonomi, tapi juga untuk menjaga identitas budaya yang tidak ternilai harganya.
Karena sejatinya, kemajuan bukanlah tentang melupakan yang lama, tapi tentang merangkul yang lama untuk melompat ke masa depan. Tanah ini pernah subur oleh kearifan anak-anaknya. Kini, giliran kita untuk memastikan kesuburan itu tidak hanya tinggal kenangan. Saatnya bangkit, saatnya bergerak, saatnya berkarya, saatnya menghidupkan kembali Lar. (WS.01)





