Nama Nasrin kini menjadi perbincangan hangat dunia bisnis jamu NTB. Pria kelahiran Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, 60 tahun lalu itu kini dikenal sukses lewat usaha jamu Sasambo. Berikut catatannya.
IBRAHIM — Mataram – Nasrin mungkin tidak pernah membayangkan perjalanan hidup akan membawanya sampai sejauh ini. Kisahnya dimulai dari pelosok Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB. Kakek 6 cucu ini lahir dari keluarga buruh tani. Pendidikannya pun tidak tinggi, ia hanya tamatan SMP. Dari seorang anak desa terpencil, kini menjadi salah satu pengusaha jamu paling sukses di NTB lewat jamu Sasambo.
Namun, di balik usaha yang berkembang itu, tersimpan perjalanan panjang yang penuh keberanian, kegigihan dan kemauan untuk terus berkembang. Sesosok Nasrin tidak memulai usahanya dengan modal besar. Ketika pertama kali memberanikan diri membuka usaha jamu, dengan modal yang dimilikinya hanya Rp 1,5 juta. Uang itu dibagi sederhana yaitu Rp 1 juta digunakan untuk menyewa rumah yang dijadikan kantor, sementara Rp500 ribu sisanya digunakan membeli bahan baku jamu.
Bagi dirinya, uang bukanlah modal utama untuk memulai usaha akan tetapi modal terbesar adalah keberanian dan tekad yang kuat untuk terus belajar. “Modal usaha itu bukan hanya dalam bentuk uang, tapi keberanian, keuletan, pintar melihat peluang, ikhtiar dan doa, ditambah restu orang tua,” katanya saat bincang-bincang dengan Warta sumbawa. com Jum’at, (11/9/2026).
Kalimat itu bukan sekadar motivasi yang ia sampaikan kepada generasi muda. Nasrin dirinya pernah mengalaminya sendiri, menjadi tukang sapu. Disaat jauh sebelum menjadi pengusaha, Nasrin pernah menjalani pekerjaan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sederhana. Ketika pertama kali bekerja di sebuah kantor, ia hanya dipercaya menjadi tukang sapu. Dari pekerjaan itu, tidak membuatnya merasa rendah diri. Justru dari sana ia belajar tentang bagaimana bekerja dan menghadapi kehidupan.
Ia dikenal sebagai pribadi yang berani mencoba. Ketika melihat peluang lain, ia kemudian memilih keluar dari pekerjaan tersebut dan mencoba menjadi sales jamu. Pilihan itu membawanya bekerja dari pintu ke pintu. Dia menjual jamu dengan mendatangi calon konsumen secara langsung. Tidak mudah, tetapi pengalaman tersebut justru menjadi sekolah kehidupan baginya.
Melihat perubahan dan kegigihannya perlahan membuahkan hasil. Dari seorang sales, Nasrin kemudian dipercaya menduduki posisi manager pada perusahaan jamu yang berpusat di Surabaya saat itu. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting, ketika ia memutuskan meninggalkan Kota Makassar dan hijrah ke Pulau Lombok.
Saat di Lombok, Nasrin kembali memulai dari bawah. Pengalaman yang diperolehnya selama bekerja di perusahaan jamu digunakan untuk meracik produk sendiri, mengatur pemasaran hingga mengelola keuangan.
Dari proses itulah kemudian lahir Jamu Sasambo. Sasambo itu Identitas Tiga Suku NTB. Nama Sasambo yang digunakan sebagai merek jamunya bukan tanpa alasan. Branch itu diambil dari tiga suku besar yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
“Sasambo itu berasal dari Sasak, Samawa dan Mbojo,” katanya.
Sasak merepresentasikan Pulau Lombok, Samawa merujuk Sumbawa, sedangkan Mbojo merupakan identitas masyarakat Bima dan Dompu. Belakangan, Nasrin mengembangkan nama mereknya menjadi Sasambodom dengan menambahkan nama Dompu di belakangnya.
Di balik nama tersebut, terdapat perjalanan seorang anak kampung yang mencoba mengangkat identitas daerah melalui produk yang dipasarkannya sampai ke manca negara. Nasrin yang dikenal ceria, mengakui perjalanan membangun usaha tidak mudah. Ada banyak proses panjang yang harus dilalui sebelum bisa menikmati hasil seperti sekarang. Karena itu, ia mengingatkan generasi muda agar tidak takut mencoba dunia usaha di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Menurutnya, keberhasilan maupun kegagalan merupakan bagian dari proses. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai. “Berhasil atau tidaknya kita, harus berani memulai. Kegagalan merupakan penyemangat kita untuk terus mencapai keberhasilan,” ujarnya.
“Kita jangan berpikir hanya jadi PNS. Menjadi pengusaha banyak yang berhasil, saya contohnya,” katanya.
Bagi Nasrin, pengalaman hidup telah mengajarinya bahwa seseorang tidak boleh terlalu cepat menilai kesuksesan hanya dari apa yang terlihat hari ini. “Jangan melihat apa yang saya dapatkan sekarang, tapi dengarkan apa yang pernah saya lewati. Semua butuh proses, tidak ada yang instan,” pesannya.
Ada satu bagian dari perjalanan Nasrin yang membuat kisahnya semakin personal. Di balik kesibukan membangun usaha, ia telah mewujudkan salah satu impian besar dalam hidupnya: menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya.
Nasrin ingin kisahnya menjadi penyemangat bagi anak-anak muda NTB agar berani mengambil pilihan dan menciptakan peluang sendiri. “Sukses itu takdir bagi orang-orang yang ingin berubah,” pungkas anak kampung asal Desa Kilo, Kabupaten Dompu, tersebut. (WS.01)

