Oleh : Ibrahim, S. IP/Direktur PT. Warta Media Utama

Di tengah hamparan sawah Desa Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) bulir-bulir padi berwarna kekuning-kuningan bergoyang pelan diterpa angin. Di balik hamparan itu tersimpan sebuah cerita tentang keberanian para petani mengubah kebiasaan, kesabaran menghadapi keraguan, dan keyakinan bahwa alam yang dijaga akan memberikan hasil yang terbaik.
Pada hari itu menjadi momen bersejarah bagi para petani. Untuk pertama kalinya, panen padi organik dilakukan secara resmi di Kabupaten Sumbawa Barat. Hasilnya bukan sekadar menggembirakan, tetapi juga melampaui ekspektasi. Produktivitas rata-rata mencapai 7,24 ton per hektare, jauh di atas hasil pertanian konvensional yang selama ini berkisar lima ton per hektare.
Panen perdana tersebut dihadiri Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si., bersama jajaran pemerintah daerah, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Bank Indonesia Perwakilan NTB, unsur TNI-Polri, penyuluh pertanian, kepala desa, hingga kelompok tani.

Bagi Bupati Amar Nurmansyah, panen ini bukan sekadar memotong batang padi. Lebih dari itu, ia melihat sebuah proses belajar yang berhasil membuktikan bahwa pertanian organik mampu menjadi jalan baru bagi kesejahteraan petani.
“Selama proses ini, petani bisa melihat langsung dampak nyata dari metode pertanian organik yang diterapkan,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta Dinas Pertanian menjadikan kawasan tersebut sebagai laboratorium lapangan pertanian organik. Demonstration farm atau demfarm dinilai penting agar semakin banyak petani dapat belajar langsung, bukan hanya melalui teori, tetapi melalui keberhasilan yang sudah terbukti di lapangan.
Bupati juga menegaskan, pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, perusahaan, lembaga pendamping, serta penyuluh pertanian agar transformasi pertanian organik terus berkembang di Sumbawa Barat.

Ketua Presidium Pertanian Organik Desa Benete, Hamzah Hasan, masih mengingat bagaimana program ini dipandang sebelah mata ketika pertama kali dimulai pada Agustus 2025 oleh masyarakat. Bersama 11 petani dari Desa Benete dan Maluk, mereka menanam varietas lokal Mentik Susu di lahan seluas 1,5 hektare.
Saat petani lain masih mengandalkan pupuk kimia dan pestisida sintetis, kelompok ini memilih jalan berbeda. Mereka memproduksi sendiri kompos dari jerami dan kotoran ternak, membuat Mikro Organisme Lokal (MOL) dari batang pisang, daun gamal, rebung bambu, bonggol pisang hingga keong mas. Bahkan kebutuhan benih hanya sekitar lima kilogram per hektare.
“Awalnya banyak yang menganggap kami main-main karena cara bertani yang kami lakukan berbeda dari kebiasaan. Namun kami memilih tetap fokus bekerja,” ceritanya.
Perlahan, hasil mulai berbicara. Tanah yang sebelumnya keras berubah menjadi lebih gembur dan subur. Produktivitas meningkat, sementara biaya produksi semakin efisien karena petani tidak lagi bergantung pada pupuk dan pestisida kimia.
Hamzah optimistis perjalanan ini baru saja dimulai. Dengan penguatan kelembagaan, sertifikasi organik, serta akses pasar yang terus dibangun, ia yakin pertanian organik mampu menjadi masa depan baru bagi petani Maluk.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendampingan intensif PT AMMAN melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

Program yang dijalankan bersama Yayasan Aliksa Organik menggunakan metode System of Rice Intensification (SRI), mengajak petani memanfaatkan seluruh potensi yang tersedia di sekitar mereka. Petani tidak hanya diberi bantuan sarana produksi, tetapi juga didorong memahami setiap proses budidaya hingga pascapanen.
Pendampingan dilakukan melalui sekolah lapang, praktik pengelolaan air, penggunaan pupuk organik, pengendalian hama alami, hingga evaluasi rutin bersama petani.
Yang menarik dari program ini, tumbuh pula semangat gotong royong. Tujuh rumah kompos dibangun secara swadaya sebagai pusat produksi pupuk organik yang nantinya tidak hanya memenuhi kebutuhan kelompok, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan baru.

Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, mengatakan pertanian organik bukan sekadar metode budidaya tanpa bahan kimia. Lebih dari itu, pertanian organik merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan tanah, lingkungan, sekaligus kesejahteraan petani.
Menurutnya, meningkatnya permintaan pasar terhadap produk organik membuka peluang ekonomi yang sangat besar. Namun keberhasilan program hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.
“Pertanian organik bukan sekadar tren, melainkan investasi jangka panjang untuk mewujudkan ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga kesehatan masyarakat, dan mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Kini perubahan mulai terlihat nyata. Produktivitas meningkat menjadi sekitar 7,3 ton per hektare. Tanah menjadi lebih sehat, petani mampu memproduksi pupuk dan vitamin tanaman sendiri, kelembagaan petani semakin kuat melalui terbentuknya Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk, dan peluang usaha baru mulai terbuka dari penjualan kompos, MOL, hingga produk organik lainnya.
Perjalanan memang masih panjang. Sertifikasi beras organik dan perluasan akses pasar masih menjadi pekerjaan berikutnya. Namun satu hal telah terbukti, perubahan selalu dimulai dari keberanian mengambil langkah.
Di Desa Benete, langkah kecil sebelas petani kini telah berubah menjadi harapan besar. Harapan bahwa sawah tidak hanya menghasilkan beras, tetapi juga melahirkan masa depan yang lebih sehat, lebih lestari, dan lebih sejahtera bagi petani Sumbawa Barat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Jamilatun, S.Pt., MM. Inov., mengatakan produksi padi di Kabupaten Sumbawa Barat mengalami penurunan sejak 2024 akibat fenomena El Niño. Pada 2025, luas tanam padi di KSB mencapai 19.207,07 hektare (Ha), sedangkan luas panen tercatat 16.828,11 Ha dengan total produksi mencapai 110.712,19 ton.
Menurut Jamilatun, luas tanam lebih besar dibandingkan luas panen karena periode pencatatan keduanya berbeda. Luas tanam dihitung mulai Januari hingga Desember 2025, sementara masa panen mengikuti siklus tanam yang rata-rata berlangsung sekitar empat bulan.
“Jadi luas panen memang lebih kecil dari luas tanam karena tanaman yang ditanam dalam satu tahun belum seluruhnya masuk masa panen,” jelasnya.
Sementara itu, hingga Juli 2026, luas panen padi di KSB telah mencapai 9.445,18 Ha dengan produksi sebanyak 58.560,11 ton. Dinas Pertanian menargetkan produksi padi tahun ini dapat menyamai capaian 2025, yakni 110.712,19 ton hingga akhir Desember 2026.
“Produksi sampai bulan Juli sudah setengah dan kami optimis target ini bisa tercapai, karena ada yang panen dan ada yang tanam,” katanya.
Untuk harga gabah, Jamilatun menyebut harga hasil panen masih berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, sama seperti tahun sebelumnya. Ia juga mendorong petani untuk mempertimbangkan menanam tanaman palawija pada musim tanam ketiga. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi berkembangnya hama dan penyakit tanaman akibat pola tanam padi yang terus-menerus.
Selain itu, Dinas Pertanian KSB mulai mempersiapkan pengembangan padi organik. Pada 2026, pengembangan padi organik telah dilakukan di Kecamatan Maluk, tepatnya di Desa Benete, melalui kelompok binaan PT AMMAN.
Untuk 2027, Dinas Pertanian berencana memperluas pengembangan padi organik di KSB dengan terlebih dahulu melakukan penjajakan terhadap kesiapan kelompok pelaksana, penyiapan sarana dan prasarana, serta luasan lahan yang tersedia.
“Kami berencana menanam padi organik pada 2027. Saat ini kami sedang menjajaki kesiapan kelompok pelaksana, sarana dan prasarana, serta luasan lahannya,” ujarnya.
Jamilatun menambahkan, program tersebut akan diarahkan sebagai salah satu upaya membangun percontohan pertanian padi organik di Kabupaten Sumbawa Barat. “Kami akan membangun percontohan padi organik di KSB,” pungkasnya. (WS.01)





