Warta Sumbawa, Sumbawa Barat — Garis demarkasi peran Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) kini tidak lagi sekadar berdiri di tepi arena elektoral untuk menghitung pelanggaran formal. Ada kecenderungan kuat bahwa lembaga pengawas ini sedang bergeser ke arah hulu untuk membangun benteng pertahanan demokrasi melalui penguatan kapasitas pemilih muda.

Potret pergeseran paradigma tersebut terekam jelas dalam agenda Sosialisasi Pendidikan Politik bagi pemilih milenial yang diinisiasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sumbawa Barat (Bakesbangpol KSB) melalui Bidang Politik dan Ormas. Memasuki hari keempat pelaksanaannya, forum edukasi ini digelar di Kecamatan Brang Rea pada Kamis, 15 Oktober 2026, dengan membedah peran strategis kaum muda di hadapan 50 peserta milenial yang hadir.

Bawaslu KSB yang didaulat sebagai narasumber utama diwakili langsung oleh Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat (Kordiv HPPH), Nurhidayati Arifah, S.Pd., M.H. Di podium, ia menarasikan sebuah tema pemantik: “Milenial Cerdas Bersuara: Mengawasi Pembangunan dalam Mewujudkan KSB Maju Luar Biasa”.

Di hadapan puluhan pasang mata generasi muda Brang Rea, Nurhidayati Arifah menegaskan bahwa, posisi milenial dalam ekosistem demokrasi tidak boleh lagi ditempatkan sebagai objek pelengkap atau sekadar angka statistik pendongkrak partisipasi di bilik suara.

“Milenial adalah pemilik masa depan Sumbawa Barat. Ketika kita bicara tentang mewujudkan KSB yang maju luar biasa, maka kecerdasan politik kaum muda adalah prasyarat mutlaknya. Bawaslu tidak bisa bekerja sendiri di ruang sunyi; kami membutuhkan mata, telinga, dan keberanian adik-adik sekalian untuk mengawasi setiap jengkal proses pembangunan dan dinamika politik di daerah kita,” ujar Nurhidayati dengan nada optimis.

Ia menambahkan, esensi dari ‘cerdas bersuara’ adalah kemampuan menyaring informasi, menolak segala bentuk pragmatisme, serta berani melaporkan indikasi penyimpangan demi menjaga marwah daerah.

Ada benang merah kuat mengapa segmen milenial menjadi bidikan utama Bakesbangpol dan Bawaslu KSB. Di tengah derasnya arus disinformasi dan ancaman pragmatisme politik, kaum muda kerap kali berada di persimpangan jalan antara apatisme atau keterlibatan yang destruktif.

Melalui kegiatan ini, terdapat target berlapis yang ingin dicapai secara struktural.

Tujuan Menukik: Menanamkan kesadaran politik yang kokoh bagi pemilih pemula agar mereka memahami esensi hak suara yang mereka miliki. Sosialisasi ini dirancang untuk membongkar sekat-sekat kejenuhan politik dan memicu nalar kritis anak muda dalam mengawal arah kebijakan serta roda pembangunan di Bumi Pariri Lema Bariri.

Output Nyata yang Diharapkan: Forum ini tidak didesain menjadi ruang satu arah yang teoretis. Keluar dari ruangan ini, para peserta diproyeksikan menjadi agent of change—menjadi mitra tak resmi Bawaslu dalam skema pengawasan partisipatif. Kaum milenial diharapkan mampu mengamplifikasi gerakan anti-kecurangan, baik di ruang digital lewat media sosial maupun di lingkungan komunitas akar rumput mereka.

Gerakan literasi politik ini bukanlah agenda instan. Bakesbangpol KSB telah merancang program ini sebagai agenda maraton terstruktur yang menjangkau 8 kecamatan di seluruh wilayah KSB. Perjalanan di Brang Rea merupakan bagian dari rangkaian panjang yang dijadwalkan terus bergulir secara berkala hingga garis finis pada 21 Oktober 2026 mendatang.

Kecenderungan keterlibatan aktif Bawaslu dalam ruang-ruang edukasi publik bentukan pemerintah daerah seperti ini menegaskan satu hal bahwa, kualitas demokrasi masa depan Sumbawa Barat tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan regulasi di atas kertas, melainkan dari seberapa tajam idealisme generasi milenial dalam mengawal daerahnya menuju capaian yang maju luar biasa. (WS.01)

By admin