Warta Sumbawa, Sumbawa Barat – Keluarga harus menjadi benteng pertama dalam melindungi anak dari berbagai pengaruh negatif, termasuk paparan radikalisme dan terorisme. Penguatan ketahanan keluarga dinilai penting agar anak memiliki karakter, nilai, serta kemampuan menghadapi berbagai pengaruh yang berkembang di lingkungan sosial maupun ruang digital.
Pesan tersebut disampaikan dalam Seminar Parenting “Deteksi Dini Anak Terpapar Radikalisme dan Terorisme” yang dilaksanakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sumbawa Barat melalui Bidang Kewaspadaan dan Ketahanan Nasional.
Seminar tersebut diikuti 150 peserta yang terdiri dari warga Kelurahan Sampir, Kelurahan Bugis, serta organisasi wanita. Kegiatan menghadirkan narasumber dari Densus 88 AT Polri dan psikolog untuk memberikan perspektif mengenai pencegahan radikalisme dan terorisme sekaligus pendekatan psikologis terhadap perkembangan perilaku anak.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sumbawa Barat Hj. Hanifa, S.Pt ., MM. Inov menekankan pentingnya pemahaman orang tua terhadap radikalisme, terorisme, serta tanda-tanda awal yang menunjukkan anak membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Ia menjelaskan, orang tua didorong untuk mengenali perubahan perilaku, pola pikir, pergaulan hingga aktivitas digital anak sejak dini. Namun, deteksi dini tidak dimaknai sebagai tindakan mencurigai atau memberikan stigma kepada anak.
“Pendekatan komunikasi dan persuasif justru menjadi hal utama. Orang tua diharapkan memberikan perhatian serta pendampingan, sekaligus menjadikan keluarga sebagai tempat pertama bagi anak untuk bertanya, bercerita, dan mendapatkan pemahaman yang benar,” katanya.
Kehadiran Densus 88 AT Polri dalam seminar memberikan pemahaman terkait aspek pencegahan dan kewaspadaan terhadap radikalisme dan terorisme. Sementara psikolog memberikan perspektif mengenai perkembangan serta perubahan perilaku anak dan pendekatan yang tepat dari sisi psikologis.
Selain penguatan komunikasi dalam keluarga, orang tua juga didorong meningkatkan literasi digital serta membangun lingkungan pergaulan yang positif bagi anak. Upaya tersebut perlu diperkuat melalui sinergi antara orang tua, sekolah, pemerintah kelurahan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintah.
Ia menjelaskan, materi seminar juga menekankan bahwa, edukasi parenting dan pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan berhenti pada satu kegiatan. Jejaring komunikasi dan koordinasi juga perlu dibangun apabila terdapat anak atau keluarga yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Langkah pencegahan, edukasi, serta pendekatan psikologis diharapkan menjadi bagian awal sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Dengan keluarga yang kuat, komunikasi yang baik dan kepedulian bersama, upaya membangun generasi Sumbawa Barat yang berkarakter, toleran, cinta damai dan cinta tanah air dapat terus diperkuat. (ADV.WS.01)
