Lestarikan Lar Kerbau, Program Haji Basuki Rasyid Dorong Ekonomi Peternak di Sinyur

Warta Sumbawa, Sumbawa Barat – Program Pelestarian dan Pengembangan Lar Kerbau di Sinyur, Kabupaten Sumbawa Barat, diarahkan tidak hanya untuk menghidupkan kembali tradisi lokal, tetapi juga menjadi instrumen pengembangan ekonomi masyarakat petani dan peternak melalui sistem indukan bergulir berbasis komunitas.

Program yang diinisiasi melalui dukungan anggota DPRD Sumbawa Barat, H. Basuki Rasyid, AR, pada Tahun 2026 tersebut menyasar kelompok tani ternak dan masyarakat peternak. Konsep utamanya adalah memberikan bantuan indukan kerbau untuk ditempatkan di kawasan Lar dan dikelola secara komunal oleh kelompok penerima manfaat.

Melalui program tersebut, H. Basuki mengatakan bahwa, indukan kerbau tidak diperbolehkan untuk dijual, dipindahtangankan atau dipotong sebelum menghasilkan sedikitnya satu keturunan. Kebijakan itu dimaksudkan agar bantuan awal dapat berkembang menjadi populasi ternak yang terus bertambah dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Lanjutnya, program ini memiliki empat tujuan utama, yakni melestarikan budaya Lar Kerbau sebagai identitas masyarakat Sumbawa Barat, memperkuat semangat gotong royong melalui pengelolaan komunal, meningkatkan populasi kerbau sebagai penggerak ekonomi, serta menciptakan sistem pengembangan ternak yang berkelanjutan.

“Dalam skema yang dirancang, kerbau indukan diberikan dan ditempatkan di kawasan Lar untuk kemudian dikelola bersama kelompok tani ternak atau pengelola Lar. Kelompok bertugas mengawasi, memelihara dan mencatat perkembangan setiap ternak,” jelasnya.

Ia menjelaskan, setiap kelahiran kerbau juga wajib dicatat dalam Buku Induk Lar Kerbau sebagai bagian dari pengembangan populasi. Data yang dicatat mencakup identitas dan asal ternak, tanggal masuk, penerima manfaat, kondisi kesehatan, kelahiran, keturunan hingga status manfaat.

Indukan Digulirkan, Manfaat Diperluas

Konsep utama program tersebut adalah sistem indukan bergulir. Setelah indukan menghasilkan keturunan, sebagian hasil pengembangan dipertahankan sebagai indukan baru untuk menjaga keberlanjutan populasi.

Dalam skema bagi hasil yang ditampilkan dalam program, anak pertama diarahkan untuk pengembangan dan keberlanjutan Lar Kerbau, sedangkan anak kedua diperuntukkan bagi penerima manfaat. Sistem tersebut dapat dilakukan secara bergiliran berdasarkan keturunan kelompok sehingga populasi tetap terjaga dan manfaat dapat dirasakan lebih banyak masyarakat.

Indukan program juga memiliki ketentuan khusus. Selain tidak boleh dijual, dipindahtangankan atau dipotong sebelum menghasilkan keturunan, dalam kondisi tertentu seperti sakit berat, cacat, tidak produktif atau tidak layak menjadi indukan, ternak hanya dapat diambil dan diputuskan melalui musyawarah kelompok dengan persetujuan mayoritas.

Dengan mekanisme tersebut, bantuan tidak berhenti sebagai pemberian ternak kepada kelompok penerima. Sebaliknya, bantuan awal diharapkan berkembang menjadi populasi baru yang terus bergulir kepada masyarakat.

Jaga Tradisi, Bangun Kemandirian Ekonomi

Program Pelestarian dan Pengembangan Lar Kerbau tersebut juga diarahkan untuk menghidupkan kembali tradisi Lar Kerbau sebagai bagian dari identitas masyarakat Sumbawa Barat.

Pengelolaan berbasis kelompok diharapkan memperkuat gotong royong sekaligus mendorong kelompok peternak menjadi lebih mandiri. Seiring bertambahnya populasi kerbau, manfaat ekonomi juga diharapkan terus bergulir dan membuka kesempatan bagi masyarakat lain untuk mendapatkan manfaat program.

Dampak yang ditargetkan mencakup hidup kembalinya budaya Lar Kerbau, bertambahnya populasi ternak, semakin mandirinya kelompok peternak, meningkatnya manfaat ekonomi secara bergulir, serta semakin luasnya kesempatan masyarakat memperoleh manfaat.

Melalui konsep tersebut, satu bantuan awal diharapkan tidak berhenti pada satu penerima, tetapi berkembang menjadi populasi ternak dan manfaat ekonomi yang terus bergulir bagi masyarakat Sumbawa Barat.

Program ini sekaligus menempatkan pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat dalam satu skema, dengan semangat menjaga Lar Kerbau sebagai warisan budaya, sumber ekonomi, sekaligus aset masyarakat untuk masa depan. (WS.01)