
Warta Sumbawa, Sumbawa Barat – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sumbawa Barat menggelar kegiatan kemping dan jelajah alam di kawasan Bendungan Tiu Suntuk, Desa Hijrah, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), sebagai tindak lanjut kunjungan ke Sembalun beberapa waktu lalu.
Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi lintas elemen untuk menggali potensi wisata Brang Ene sekaligus menghimpun gagasan dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau pariwisata kerakyatan yang menjadi salah satu program Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat.
Ketua PWI Kabupaten Sumbawa Barat, Khairil W. Zakaria, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kebersamaan di alam terbuka, tetapi juga momentum untuk mempertemukan berbagai pihak dalam merumuskan gagasan konkret bagi kemajuan pariwisata daerah.
“Pariwisata kerakyatan tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, pelaku wisata, dan media. Melalui kegiatan ini, kami sudah melihat langsung potensi yang dimiliki Brang Ene, menampung berbagai masukan, dan merumuskannya menjadi rekomendasi kebijakan pariwisata di Sumbawa Barat,” ujar Khairil.

Rute kegiatan dimulai dari Desa Menemeng dengan menyusuri jalur persawahan hingga menuju kawasan Bendungan Tiu Suntuk di Desa Hijrah. Para peserta menempuh jalur sekitar 6 kilometer dengan waktu perjalanan kurang lebih empat jam.
Sepanjang perjalanan, peserta disuguhi bentang alam pedesaan berupa hamparan persawahan dan jalur pematang yang menawarkan suasana alami. Rute tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan potensi wisata berbasis alam dan aktivitas luar ruang yang dimiliki Kecamatan Brang Ene.
Kegiatan ini diikuti pengurus dan anggota PWI KSB. Sejumlah elemen turut terlibat, di antaranya aktivis lingkungan, Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cordova, pegiat pariwisata, tokoh masyarakat, serta komunitas lokal.
Khairil berharap kegiatan sederhana ini dapat menjadi pemantik bagi berbagai pihak untuk lebih aktif merawat dan mengembangkan potensi pariwisata daerah.
“Hari ini tindak lanjut, jalan jelajah yang memilih lokasi di Brang Ene. Mudah-mudahan kegiatan kecil ini memotivasi untuk aktif dan dapat merawat pariwisata ke depan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) KSB, Nurdin Rahman, SE, mengapresiasi kegiatan yang digagas PWI KSB. Menurutnya, media memiliki peran penting sebagai penyambung cerita sekaligus menyebarluaskan informasi mengenai potensi pariwisata kepada masyarakat.
Ia menilai program Bupati KSB melalui konsep “KSB Maju Luar Biasa” yang berbasis kerakyatan dapat menjadi momentum untuk mengungkit pengembangan pariwisata kerakyatan di daerah.
“Pariwisata yang maju bisa berkolaborasi dan memanfaatkan masyarakat sebagai ujung tombak,” katanya.
Menurut Nurdin, kawasan Brang Ene memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis olahraga dan aktivitas alam. Pemerintah daerah berencana mengembangkan jalur ‘Jogging track’ dan sejumlah check point di kawasan tersebut.
Menariknya, pengembangan jalur wisata itu nantinya diharapkan tidak hanya menghadirkan pengalaman bagi wisatawan, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat. Di sepanjang jalur, pelaku usaha lokal dapat menjajakan produk dan barang dagangan mereka.
“Di Brang Ene akan dibangun destinasi wisata dengan dibuatkan jogging track dan check point. Di setiap jalannya akan ada pelaku usaha yang menjajakan barangnya. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Karena pariwisata olahraga banyak diminati dan tingkat keberhasilannya tinggi,” ujarnya.
Nurdin berharap konsep pariwisata kerakyatan dapat diterapkan secara konsisten sehingga manfaat pembangunan sektor pariwisata benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurutnya, pengembangan destinasi juga perlu dibarengi dengan penyusunan paket wisata yang mampu menghubungkan potensi alam, aktivitas masyarakat, serta produk lokal menjadi pengalaman wisata yang lebih menarik.
“Poinnya, pariwisata bisa meningkatkan dan dirasakan. Itu yang namanya pariwisata berkelanjutan. Mari kita jaga alam dan kita wariskan untuk anak cucu kita secara berkelanjutan,” pungkasnya. (WS.01)





