Warta Sumbawa, Flores, NTT — Bencana gempa dan tsunami tidak hanya menimbulkan kerusakan, tetapi juga membatasi akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Kondisi tersebut menggerakkan drg. Eris Basiroh, FISQua, alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (FKG UNAIR), untuk terjun sebagai relawan bagi masyarakat terdampak bencana di Pulau Flores.

Dalam misi kemanusiaan tersebut, drg. Eris bersama tim relawan mengunjungi 12 titik pelayanan yang tersebar di tiga kabupaten, yaitu Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur. Sebanyak 316 pasien dari berbagai kelompok usia berhasil memperoleh pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

Pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan gigi, edukasi mengenai cara menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta demonstrasi cara menyikat gigi yang benar. Pasien anak maupun dewasa yang memenuhi indikasi medis juga mendapatkan tindakan ekstraksi gigi.

Selain pelayanan langsung, tim relawan membagikan sikat gigi dan pasta gigi kepada masyarakat. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut selama masa pemulihan pascabencana.

Di tengah pelayanan, seorang pasien bercerita bahwa sikat gigi miliknya telah terbawa gelombang tsunami. Kisah sederhana tersebut menggambarkan bahwa bencana tidak hanya merusak tempat tinggal, tetapi juga menghilangkan barang-barang pribadi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Cerita itu membuat pembagian sikat gigi dan pasta gigi terasa semakin bermakna. Bantuan yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang ternyata sangat dibutuhkan oleh para penyintas untuk kembali merawat diri dan menjaga kesehatannya di tengah keterbatasan.

“Ketika seorang pasien mengatakan bahwa sikat giginya terbawa tsunami, saya tersadar bahwa kebutuhan para penyintas bukan hanya makanan dan obat-obatan. Perlengkapan sederhana untuk menjaga kebersihan dan merawat diri juga sangat berarti bagi mereka,” ungkap drg. Eris.

Menurut drg. Eris, pelayanan kesehatan gigi dalam kondisi bencana memiliki tantangan tersendiri. Jarak antarlokasi, medan perjalanan, serta keterbatasan sarana tidak menyurutkan langkah para relawan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Dalam situasi bencana, kesehatan gigi sering kali belum menjadi prioritas. Padahal, sakit gigi dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk makan, tidur, beraktivitas, bahkan menjalani proses pemulihan,” jelasnya.

Di setiap titik pelayanan, ia menemukan berbagai kondisi kesehatan gigi dan mulut. Sebagian pasien telah lama menahan rasa sakit karena terbatasnya akses menuju fasilitas kesehatan. Beberapa anak bahkan baru pertama kali mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan langsung dari dokter gigi.

“Bagi kami, satu gigi yang tertangani bukan sekadar tindakan medis. Di sana ada rasa sakit yang berakhir, keberanian yang tumbuh, dan senyum yang kembali,” lanjut drg. Eris.

Baginya, pengabdian seorang dokter gigi tidak selalu berlangsung di ruang praktik dengan fasilitas lengkap. Dalam kondisi tertentu, tenaga kesehatan perlu bergerak dan membawa pelayanan lebih dekat kepada masyarakat.

“Ketika mereka tidak bisa datang kepada dokter gigi, kami yang akan datang kepada mereka,” ujarnya.

Kalimat tersebut menjadi semangat drg. Eris dalam menjalankan misi kemanusiaan. Perjalanan melintasi tiga kabupaten, mengunjungi 12 titik pelayanan, dan menjangkau 316 pasien bukan sekadar catatan angka, melainkan wujud kepedulian terhadap hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

Melalui kegiatan ini, drg. Eris turut membawa semangat pengabdian alumni Universitas Airlangga untuk memberikan manfaat melalui ilmu dan profesi, termasuk kepada masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak bencana dan memiliki keterbatasan akses pelayanan kesehatan.

Dari Airlangga untuk Flores, dari ilmu menjadi pengabdian—menjangkau yang jauh, meredakan rasa sakit, dan mengembalikan senyum masyarakat terdampak bencana. (WS.01)

By admin