Petani Brang Rea Desak Pemda Serius Tangani Wabah Wereng, Sejumlah Lahan Terancam Gagal Panen

Warta Sumbawa, Sumbawa Barat — Petani di Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), mendesak pemerintah daerah agar lebih serius dan responsif dalam menangani wabah wereng yang menyerang tanaman padi hingga menyebabkan gagal panen di sejumlah lahan pertanian. Petani berharap langkah konkret segera diambil, terutama menjelang musim tanam berikutnya.

Di lokasi persawahan, petani Brang Rea, Herman Jayadi, menyampaikan bahwa wabah wereng telah menimbulkan kerugian besar bagi petani. Ia menilai, meskipun penyuluh pertanian telah mengetahui kondisi di lapangan, belum ada tindakan maksimal seperti penyemprotan massal yang dapat membantu petani secara langsung.

“Kami melihat di lapangan tanaman sudah tidak mungkin dikembalikan seperti semula. Bagi lahan yang sudah terserang wereng, kami berharap segera ada bantuan. Apalagi sebentar lagi masuk musim tanam berikutnya, harus ada upaya agar wabah ini tidak terulang,” ujarnya, pada Kamis, (8/1/2026).

Herman menegaskan, petani saat ini sangat membutuhkan kehadiran pemerintah dengan langkah nyata. Keterbatasan biaya membuat petani tidak mampu menanggulangi sendiri serangan hama tersebut, terutama untuk pengadaan obat-obatan. “Kami berharap pemerintah bisa segera memberikan solusi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian KSB, Jamilatun, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya menyatakan bahwa, pihaknya telah melakukan upaya pencegahan melalui penyemprotan di lahan pertanian yang terdampak wabah wereng. Ia menjelaskan, wilayah terdampak berada di Kecamatan Brang Rea, khususnya di Desa Beru dengan luas lahan 2,73 hektar dan tingkat kerusakan mencapai sekitar 75 persen pada dua kelompok tani.

Selain itu, di Desa Sapugara Bree terdeteksi serangan wereng seluas 2 hektar dengan kategori ringan sehingga masih memungkinkan dilakukan pemulihan melalui pengamatan lanjutan. “Kami juga sudah melakukan pengendalian di 5 hektar lahan milik warga pada lima kelompok tani, dan saat ini kondisinya sudah normal kembali,” jelasnya.

Jamilatun menyebutkan, wabah wereng diduga dipicu oleh sumber benih serta faktor cuaca ekstrem. Menindaklanjuti laporan petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) telah turun langsung melakukan pemeriksaan untuk memastikan ciri-ciri serangan wereng di lahan pertanian.

Untuk mengantisipasi gagal panen, Dinas Pertanian KSB juga telah mengusulkan kelompok tani terdampak agar mengajukan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP/AUTS) melalui PT Jasindo. Proses klaim dilakukan setelah verifikasi lapangan oleh petugas Jasindo bersama pegawai pertanian. “Biaya premi dibayarkan oleh Pemda sebesar Rp180 ribu per hektar, dengan nilai klaim mencapai Rp6 juta per hektar yang akan dicairkan ke rekening masing-masing petani melalui program KSB Maju Tani/Ternak,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau para petani agar segera melaporkan kepada penyuluh pertanian apabila terjadi kerusakan tanaman, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. (WS.01)